PR besar penindakan kanker anak di Indonesia terus menjadi sorotan. Banyak dokter menilai sistem kesehatan masih menghadapi hambatan besar. Selain itu, masyarakat juga belum memahami pentingnya deteksi dini kanker anak.
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menunjukkan ribuan anak setiap tahun belum mendapatkan diagnosis tepat waktu. Karena itu, dokter meminta semua pihak segera memperbaiki sistem penanganan.
Baca Berita Lainnya “Kebakaran Gudang Pestisida Tangsel, 7 Saksi Diperiksa“
Ribuan Kasus Kanker Anak Belum Terdeteksi
Ketua UKK Hemato Onkologi IDAI, Eddy Supriyadi, menjelaskan bahwa Indonesia mencatat 11–12 ribu kasus kanker anak baru setiap tahun. Namun, dokter hanya menemukan sekitar 4.000–4.500 kasus.
Akibatnya, banyak anak memulai pengobatan saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Oleh karena itu, dokter terus mengingatkan orang tua agar memeriksa anak lebih cepat jika muncul gejala mencurigakan.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat program skrining di rumah sakit dan puskesmas. Dengan langkah itu, dokter bisa menemukan kanker lebih awal dan meningkatkan peluang sembuh.
Kekurangan Dokter Kanker Anak Jadi Kendala
Masalah berikutnya muncul dari jumlah dokter spesialis kanker anak yang masih sedikit. Banyak rumah sakit di daerah tidak memiliki dokter onkologi anak.
Selain itu, dokter spesialis lebih banyak bekerja di kota besar di Pulau Jawa. Akibatnya, keluarga dari daerah terpencil harus menempuh perjalanan jauh untuk mencari pengobatan.
Karena itu, IDAI mendorong pemerintah menambah kuota pendidikan dokter spesialis dan memperbaiki distribusi tenaga medis. Dengan cara tersebut, anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang adil.
Fasilitas Kesehatan Belum Mendukung Secara Optimal
Penanganan kanker anak membutuhkan fasilitas lengkap. Rumah sakit harus menyediakan unit transfusi darah, PICU, dokter multidisiplin, serta ruang rawat ramah anak.
Namun, banyak rumah sakit daerah belum memiliki fasilitas tersebut. Akibatnya, dokter harus merujuk pasien ke kota besar. Selain melelahkan, kondisi ini juga meningkatkan biaya keluarga.
Karena itu, pemerintah perlu mempercepat pembangunan fasilitas kanker anak di berbagai daerah.
Standarisasi Penanganan Kanker Anak Perlu Diperkuat
Selain SDM dan fasilitas, dokter juga meminta standar nasional yang lebih jelas. Standar tersebut harus mengatur diagnosis, pengobatan, hingga pendampingan pasien.
Dengan standar yang kuat, rumah sakit di seluruh Indonesia dapat memberikan layanan yang sama baiknya. Selain itu, pasien dan keluarga bisa mendapatkan kepastian pengobatan.
Harapan untuk Masa Depan Anak Indonesia
Dokter berharap pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat bekerja sama memperbaiki penindakan kanker anak di Indonesia. Pertama, orang tua perlu mengenali gejala kanker sejak dini. Kedua, pemerintah harus menambah dokter spesialis dan fasilitas. Ketiga, rumah sakit perlu meningkatkan kualitas layanan anak.
Dengan langkah bersama, anak-anak Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk sembuh dan hidup sehat.
