Kasus meninggalnya seorang bocah di Sukabumi menarik perhatian publik setelah dokter mengungkap kondisi medis korban. Uraian kedokteran cedera bocah Sukabumi menunjukkan bahwa korban mengalami gangguan pernapasan berat sejak tiba di rumah sakit, bukan luka fisik sebagai penyebab utama kegawatdaruratan.
Dokter spesialis anak di RSUD Jampangkulon, dr. Sulaiman Arigayota, menjelaskan bahwa tim medis langsung memberi bantuan napas intensif begitu melihat kondisi korban di IGD.
Baca Berita Lainnya “Serangan Anjing Liar di Polewali Mandar: Kakak-Adik Nyaris Tewas, Warga Sempat Kira Bangkai“
Dokter Fokus Tangani Pernapasan dalam Kasus Cedera Bocah Sukabumi
Tim medis menerima korban di IGD lalu melakukan triase untuk menentukan tingkat kegawatdaruratan. Dokter memeriksa tanda vital, mewawancarai keluarga, dan menilai kondisi fisik korban.
Dokter menemukan beberapa luka di tubuh korban. Namun tim segera memprioritaskan penanganan napas karena korban tampak kesulitan bernapas.
Tim kemudian memindahkan korban ke ICU anak agar mendapatkan alat bantu napas dan pengawasan ketat.
Dokter Temukan Beragam Luka pada Tubuh Korban
Dokter mencatat luka di wajah, leher, tangan, kaki, dan tubuh korban. Sebagian luka tampak baru, sementara beberapa luka terlihat sudah mengering.
Beberapa luka menyerupai luka bakar, tetapi dokter belum memastikan penyebabnya. Luka bisa berasal dari benda tumpul, benda panas, atau kondisi medis tertentu.
Temuan dokter meliputi:
-
Sekitar 4 luka menyerupai luka bakar
-
3 luka mengering seperti keropeng
-
Beberapa luka lebam
Meski menemukan luka fisik, dokter menegaskan bahwa gangguan napas tetap menjadi kondisi paling kritis.
Gangguan Pernapasan Berat Jadi Kondisi Paling Bahaya
Di ruang PICU, dokter melihat pola napas korban tidak stabil. Korban bernapas cepat dan tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
Tim medis memasang alat bantu napas dan memberi obat darurat. Dokter dan perawat terus memantau kondisi korban selama beberapa jam.
Meski tim bekerja maksimal, kondisi korban terus menurun.
Dokter Masih Tunggu Hasil Autopsi untuk Pastikan Penyebab Kematian
Dokter belum menarik kesimpulan tentang penyebab kematian korban. Tim forensik harus melakukan autopsi untuk menentukan faktor penyebab secara pasti.
Dokter juga mengklarifikasi video yang beredar. Luka di hidung korban bukan luka berdarah baru, melainkan luka lama yang sudah mengering.
Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak medis dan aparat.
Pemeriksaan Forensik Penting untuk Ungkap Fakta
Tim medis membutuhkan hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. Pemeriksaan itu membantu menentukan apakah korban meninggal karena trauma, penyakit, atau kombinasi keduanya.
Masyarakat sebaiknya menunggu hasil resmi agar tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti.
