Pendahuluan
Serangan udara Israel kembali mengguncang Gaza. Padahal, gencatan senjata baru saja disepakati melalui mediator seperti Amerika Serikat, Qatar, Turki, dan Mesir. Namun perdamaian itu hanya bertahan sebentar. Setelahnya, bom kembali dijatuhkan dan warga sipil menjadi korban.
Artikel ini membahas kronologi konflik, jumlah korban, serta reaksi Indonesia dan dunia terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.
Latar Belakang Konflik dan Gencatan Senjata
Konflik terbaru bermula pada 7 Oktober 2023 ketika kelompok perlawanan Palestina menyerang wilayah Israel. Aksi tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan memicu balasan militer besar-besaran dari Israel.
Beberapa negara seperti AS, Qatar, Turki, dan Mesir kemudian memediasi gencatan senjata. Walaupun perjanjian itu tercapai pada awal 2025, ketegangan segera meningkat lagi. Pesawat tempur Israel kembali menyerang Gaza hanya beberapa minggu setelah jeda damai diumumkan.
Akibatnya, banyak warga Gaza kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga. Pola ini terus berulang: gencatan senjata disepakati, lalu dilanggar. Situasi tersebut membuat harapan perdamaian semakin tipis.
Data Korban dan Serangan Terbaru
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 60.000 warga Palestina tewas dan 165.000 lainnya terluka sejak perang dimulai. Angka itu terus bertambah setiap pekan.
Dalam dua hari terakhir, Israel melancarkan lebih dari 130 serangan udara ke Rafah, Khan Younis, dan wilayah utara Gaza. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Organisasi internasional memperkirakan 80% korban merupakan warga sipil, bukan kombatan.
Selain itu, layanan kesehatan hampir berhenti total karena rumah sakit rusak dan kekurangan bahan bakar. Sementara itu, ribuan warga terpaksa mengungsi tanpa arah tujuan yang pasti.
Baca juga “Laki-Laki di Pandeglang Diduga Coba Bunuh Diri Usai Bacok Tetangga“
Sumber dan Pernyataan Internasional
Militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan markas Hamas. Namun laporan lapangan menunjukkan banyak korban sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut aksi militer Israel “tidak dapat diterima secara moral dan hukum.” Selain itu, Human Rights Watch juga menegaskan bahwa Israel telah melanggar hukum internasional dan menyerang area sipil.
Di Indonesia, tokoh-tokoh seperti Hidayat Nur Wahid (MPR) dan Dave Laksono (NU) menilai tindakan Israel harus dikecam keras. Mereka mendesak pemerintah Indonesia memperkuat diplomasi di PBB dan mendorong penghentian blokade terhadap Gaza.
Dengan adanya berbagai pernyataan ini, terlihat jelas bahwa tekanan internasional terhadap Israel semakin kuat dari hari ke hari.
Sudut Pandang Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menegaskan bahwa kekerasan di Gaza harus segera dihentikan. Selain itu, Indonesia terus mendesak masyarakat internasional untuk menegakkan hukum humaniter.DPR RI juga menyerukan pentingnya solusi damai dua negara yang adil dan berkelanjutan. Sementara itu, masyarakat Indonesia menunjukkan solidaritas nyata.
Banyak komunitas menggelar doa bersama, aksi damai, dan penggalangan dana untuk rakyat Palestina. Organisasi kemanusiaan seperti MER-C dan Dompet Dhuafa mengirimkan bantuan medis dan logistik.
Karena dukungan itu, Indonesia semakin dikenal sebagai negara yang konsisten membela kemerdekaan Palestina.
Isu Kemanusiaan yang Memburuk
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin mengkhawatirkan. Warga kekurangan listrik, air bersih, dan makanan pokok.
Lebih dari 1,5 juta orang kini hidup di kamp pengungsian yang padat dan tidak layak huni. Anak-anak tidur di tenda sementara orang tua mereka mencari air di reruntuhan.
“Kami tidak punya tempat untuk pergi. Setiap malam kami mendengar ledakan,” kata seorang warga Gaza kepada media lokal.
Kondisi rumah sakit juga sangat kritis. Banyak tenaga medis bekerja tanpa istirahat karena jumlah pasien meningkat drastis.
Lembaga kemanusiaan UNRWA memperingatkan bahwa Gaza menghadapi risiko kelaparan massal. Selain itu, PBB menyebut lebih dari separuh fasilitas kesehatan telah hancur.
Oleh karena itu, dunia internasional perlu segera memperluas akses bantuan agar korban sipil bisa diselamatkan.
Reaksi Dunia Internasional
Negara-negara seperti Turki, Qatar, Mesir, dan Uni Eropa mengecam serangan terbaru Israel. Mereka menuntut penghentian kekerasan dan pembukaan jalur kemanusiaan.
Namun, sebagian negara Barat masih mendukung operasi militer Israel dengan alasan pembelaan diri. Sikap ini menimbulkan perdebatan di banyak forum internasional.
Meski begitu, banyak analis menilai tekanan terhadap Israel semakin besar, terutama dari organisasi kemanusiaan dan masyarakat sipil dunia.
Indonesia dapat mengambil peran penting sebagai suara moral bagi perdamaian.Selain itu, negara-negara perlu memperkuat kerja sama di forum seperti PBB dan OKI agar tekanan diplomatik menjadi nyata.
Analisis dan Arah Konflik ke Depan
Mengapa serangan kembali terjadi meski Israel dan kelompok Palestina sudah menyepakati gencatan senjata? Beberapa pengamat menilai pemerintah Israel menghadapi tekanan politik dalam negeri. Mereka menggunakan konflik Gaza untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal.
Selain itu, blokade ekonomi dan militer terhadap Gaza memperburuk situasi.Warga tidak bisa keluar masuk, dan pihak Israel membatasi pasokan obat serta makanan.
Sementara itu, mediator seperti Qatar dan Mesir masih berupaya membuka jalur negosiasi baru. Namun tanpa kepercayaan antarpihak, perdamaian sulit terwujud.
Meskipun begitu, banyak pihak optimistis bahwa tekanan global yang terus meningkat dapat membuka peluang dialog baru di masa depan.
Kesimpulan
Serangan terbaru Israel membuktikan bahwa perdamaian di Timur Tengah masih rapuh.Setiap kali Israel menjatuhkan bom, penderitaan warga Gaza bertambah dan harapan rekonsiliasi semakin jauh.
Rakyat Palestina terus berjuang untuk bertahan hidup di tengah kehancuran.
Indonesia dan dunia internasional memiliki tanggung jawab moral untuk terus bersuara. Pemerintah dan masyarakat internasional perlu memperkuat langkah diplomasi serta bantuan kemanusiaan agar rakyat Palestina dapat mewujudkan kehidupan yang aman dan bermartabat.
