Polemik candaan adat Toraja kembali memanas setelah polisi memeriksa admin kanal YouTube milik komika terkenal. Kasus ini menyeret nama Pandji Pragiwaksono karena materi stand-up comedy yang menyinggung tradisi Toraja. Publik pun mempertanyakan batas antara humor dan penghormatan terhadap adat.
Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri langsung memanggil admin kanal berinisial SB untuk dimintai keterangan. Langkah ini menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani laporan masyarakat Toraja.
Baca Berita Lainnya “Gegara Hal Sepele, Pacar Bunda Aniaya Balita di Hotel Karawang“
Awal Mula Polemik Candaan Adat Toraja
Kontroversi muncul dari potongan video stand-up comedy lama yang kembali viral. Dalam materi tersebut, Pandji membahas prosesi pemakaman adat Toraja yang memerlukan biaya besar.
Sebagian penonton menganggap materi itu sebagai kritik sosial. Namun, Aliansi Pemuda Toraja menilai candaan tersebut melecehkan tradisi sakral. Karena itu, mereka melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri.
Polisi kemudian menelusuri proses produksi dan distribusi konten tersebut. SB mengakui bahwa ia mengunggah video atas arahan Pandji. Ia juga mengedit video, menulis deskripsi, dan menentukan jadwal tayang.
Bareskrim Dalami Peran Admin Kanal
Penyidik mengajukan puluhan pertanyaan kepada SB untuk mengklarifikasi perannya. Mereka ingin memastikan siapa yang mengarahkan publikasi video tersebut.
Menurut keterangan resmi, SB telah bekerja bersama Pandji sejak 2010. Oleh sebab itu, penyidik memeriksa komunikasi internal terkait proses unggahan konten.
Selain memeriksa admin, penyidik juga meminta klarifikasi langsung dari Pandji. Saat ini, penyidik masih mengumpulkan keterangan tambahan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Candaan Lama, Reaksi Baru
Materi tersebut sebenarnya berasal dari pertunjukan tahun 2013. Namun, ketika video itu kembali viral, respons publik berubah drastis. Perubahan konteks sosial membuat masyarakat lebih sensitif terhadap isu budaya.
Di satu sisi, komika sering memakai satire untuk mengkritik realitas sosial. Akan tetapi, masyarakat Toraja memandang prosesi pemakaman sebagai bagian sakral dari identitas budaya. Karena perbedaan perspektif itu, perdebatan pun menguat.
Warganet pun terlibat diskusi panjang tentang batas kebebasan berekspresi. Sebagian membela kebebasan berkomedi, sementara yang lain menuntut penghormatan terhadap adat.
Pelajaran dari Polemik Candaan Adat Toraja
Kasus ini mengingatkan kreator bahwa konten digital memiliki jejak panjang. Video lama bisa kembali viral dan memicu kontroversi baru.
Selain itu, kreator perlu mempertimbangkan sensitivitas budaya sebelum menyampaikan materi humor. Dengan pendekatan yang lebih hati-hati, mereka tetap bisa kreatif tanpa menyinggung kelompok tertentu.
Akhirnya, polemik candaan adat Toraja membuka ruang refleksi bersama. Publik kini menilai bukan hanya isi candaan, tetapi juga dampaknya terhadap komunitas yang merasa tersinggung.
